Visi dan Misi Yayasan Citra Desa Indonesia (CDI)

Visi:

Menjadi lembaga pemberdayaan masyarakat yang berperan dalam menciptakan komunitas marjinal yang mandiri, produktif, dan sejahtera melalui pengembangan kapasitas manusia, penguatan ekonomi lokal, dan pembangunan berbasis partisipasi.

 

Misi:

  1. Memberdayakan kelompok masyarakat rentan melalui peningkatan keterampilan dan kapasitas kewirausahaan.
  2. Mengembangkan model usaha masyarakat berbasis potensi lokal yang berkelanjutan.
  3. Memperkuat peran perempuan dan kelompok rentan dalam pembangunan ekonomi keluarga dan komunitas.
  4. Membangun sistem pendampingan, monitoring, dan evaluasi yang transparan serta partisipatif.
  5. Mengembangkan jejaring kemitraan untuk memperluas dampak sosial dan ekonomi masyarakat.

                      Kegiatan yang telah dilaksanakan CDI antara lain:

 

        1. Bekerjasama dengan DAI/USAID (Pebruari – Mei 2005) dalam Program Pemulihan Ekonomi Masyarakat Korban Tsunami melalui Pengadaan Boat Nelayan dan Peralatan Kerja Wanita Pendulan Garam di Desa Pasi Ie Leubeu dan Lancang Kecamatan Kembang Tanjong, Kabuapten Pidie.

        2. Bekerjasama dengan JICA Indonesia (Mei 2005 – Maret 2006) dalam Program Pemulihan Ekonomi Masyarakat Korban Tsunami melalui Pengadaan Boat Nelayan dan Peralatan Kerja Wanita Pendulan Garam di Desa Ara, Krueng Dhoe, Pasi Lhok dan Jeumeurang Kecamatan Kembang Tanjong, Kabupaten Pidie.
        3. Bekerjasama dengan Oxfam Partnership Programme Aceh (November 2007 – Oktober 2008) dalam Program Pembangunan Zona Perlindungan Laut untuk Keberlanjutan Ekonomi Masyarakat Nelayan/Korban Tsunami di Kecamatan Kembang Tanjong, Kabupaten Pidie.
        4. Bekerjasama dengan JICA (Januari – Maret 2006) dalam program melakukan Normalisasi Saluran Irigasi melalui gotong-royong Pembangunan Saluran Gendong, Jembatan Plat, dan Talang Air di Kecamatan Indra Jaya, Kabupaten Pidie
        5. Bekerjasama dengan JICA (Januari – Maret 2006) dalam program melakukan Normalisasi Saluran Irigasi Tiro – Teupin Raya melalui Gotong-royong Pembangunan Saluran Lambaro - Pulo Labu dan Lueng Moun Meujeng – Teupin Raya di Kecamatan Glumpang Tiga, Kabupaten Pidie
Alasan utama mengapa pemberdayaan masyarakat marjinal penting dilakukan:

1. Mengurangi kemiskinan dan ketimpangan sosial

Masyarakat marjinal sering menghadapi keterbatasan dalam memperoleh:

  • pekerjaan yang layak,
  • sumber pendapatan yang stabil,
  • akses modal,
  • pendidikan dan keterampilan,
  • layanan dasar.

Kondisi ini dapat menyebabkan mereka terjebak dalam lingkaran kemiskinan. Melalui pemberdayaan, masyarakat memperoleh kemampuan dan kesempatan untuk meningkatkan pendapatan serta memperbaiki kondisi kehidupannya.

 

2. Meningkatkan kemandirian masyarakat

Bantuan yang bersifat sementara sering kali hanya menyelesaikan masalah jangka pendek. Pemberdayaan berfokus pada pembangunan kemampuan jangka panjang agar masyarakat mampu:

  • mengambil keputusan sendiri,
  • mengelola sumber daya yang dimiliki,
  • mengembangkan usaha,
  • menyelesaikan masalah secara mandiri.

Dengan demikian, masyarakat tidak hanya menjadi penerima bantuan (beneficiary), tetapi menjadi aktor pembangunan (development actor).

 

3. Menggali dan memperkuat potensi lokal

Setiap masyarakat sebenarnya memiliki aset dan potensi, seperti:

  • keterampilan tradisional,
  • sumber daya alam lokal,
  • budaya,
  • jaringan sosial,
  • pengalaman hidup.

Namun, potensi tersebut sering belum berkembang karena keterbatasan akses dan pengetahuan.

Pemberdayaan membantu masyarakat mengubah potensi yang ada menjadi sumber penghidupan yang produktif.

 

4. Meningkatkan rasa percaya diri dan posisi tawar masyarakat

Kemiskinan sering tidak hanya berkaitan dengan kekurangan ekonomi, tetapi juga rendahnya kepercayaan diri dan lemahnya posisi dalam pengambilan keputusan.

Melalui proses pemberdayaan, masyarakat belajar untuk:

  • menyampaikan pendapat,
  • berorganisasi,
  • bernegosiasi,
  • memperjuangkan hak dan kepentingannya.

Hal ini meningkatkan agency atau kemampuan masyarakat untuk menentukan pilihan dan mengendalikan kehidupannya.

 

5. Mendorong pembangunan yang lebih inklusif

Pembangunan sering tidak memberikan manfaat yang sama kepada semua kelompok masyarakat. Kelompok marjinal dapat tertinggal karena:

  • lokasi yang terpencil,
  • keterbatasan ekonomi,
  • diskriminasi sosial,
  • kurangnya akses informasi.

Pemberdayaan memastikan kelompok yang selama ini kurang terlibat dapat berpartisipasi dalam pembangunan.

 

6. Memperkuat kohesi dan solidaritas sosial

Program pemberdayaan yang berbasis kelompok dapat memperkuat hubungan sosial melalui:

  • kerja sama,
  • gotong royong,
  • pembentukan kelompok usaha,
  • pengelolaan sumber daya bersama.

Masyarakat yang memiliki organisasi kuat biasanya lebih mampu menghadapi tantangan ekonomi dan sosial.

 

7. Menciptakan pembangunan yang berkelanjutan

Program yang hanya memberikan bantuan material sering berhenti ketika dukungan eksternal berakhir. Sebaliknya, pemberdayaan membangun:

  • kapasitas manusia,
  • kelembagaan lokal,
  • sistem ekonomi masyarakat,
  • jaringan kerja sama.

Dengan demikian, manfaat program dapat terus berlangsung dalam jangka panjang.