Visi:
Menjadi lembaga pemberdayaan masyarakat yang berperan dalam menciptakan komunitas marjinal yang mandiri, produktif, dan sejahtera melalui pengembangan kapasitas manusia, penguatan ekonomi lokal, dan pembangunan berbasis partisipasi.
Misi:
Kegiatan yang telah dilaksanakan CDI antara lain:
Bekerjasama dengan DAI/USAID (Pebruari – Mei 2005) dalam Program Pemulihan Ekonomi Masyarakat Korban Tsunami melalui Pengadaan Boat Nelayan dan Peralatan Kerja Wanita Pendulan Garam di Desa Pasi Ie Leubeu dan Lancang Kecamatan Kembang Tanjong, Kabuapten Pidie.
1. Mengurangi kemiskinan dan ketimpangan sosial
Masyarakat marjinal sering menghadapi keterbatasan dalam memperoleh:
Kondisi ini dapat menyebabkan mereka terjebak dalam lingkaran kemiskinan. Melalui pemberdayaan, masyarakat memperoleh kemampuan dan kesempatan untuk meningkatkan pendapatan serta memperbaiki kondisi kehidupannya.
2. Meningkatkan kemandirian masyarakat
Bantuan yang bersifat sementara sering kali hanya menyelesaikan masalah jangka pendek. Pemberdayaan berfokus pada pembangunan kemampuan jangka panjang agar masyarakat mampu:
Dengan demikian, masyarakat tidak hanya menjadi penerima bantuan (beneficiary), tetapi menjadi aktor pembangunan (development actor).
3. Menggali dan memperkuat potensi lokal
Setiap masyarakat sebenarnya memiliki aset dan potensi, seperti:
Namun, potensi tersebut sering belum berkembang karena keterbatasan akses dan pengetahuan.
Pemberdayaan membantu masyarakat mengubah potensi yang ada menjadi sumber penghidupan yang produktif.
4. Meningkatkan rasa percaya diri dan posisi tawar masyarakat
Kemiskinan sering tidak hanya berkaitan dengan kekurangan ekonomi, tetapi juga rendahnya kepercayaan diri dan lemahnya posisi dalam pengambilan keputusan.
Melalui proses pemberdayaan, masyarakat belajar untuk:
Hal ini meningkatkan agency atau kemampuan masyarakat untuk menentukan pilihan dan mengendalikan kehidupannya.
5. Mendorong pembangunan yang lebih inklusif
Pembangunan sering tidak memberikan manfaat yang sama kepada semua kelompok masyarakat. Kelompok marjinal dapat tertinggal karena:
Pemberdayaan memastikan kelompok yang selama ini kurang terlibat dapat berpartisipasi dalam pembangunan.
6. Memperkuat kohesi dan solidaritas sosial
Program pemberdayaan yang berbasis kelompok dapat memperkuat hubungan sosial melalui:
Masyarakat yang memiliki organisasi kuat biasanya lebih mampu menghadapi tantangan ekonomi dan sosial.
7. Menciptakan pembangunan yang berkelanjutan
Program yang hanya memberikan bantuan material sering berhenti ketika dukungan eksternal berakhir. Sebaliknya, pemberdayaan membangun:
Dengan demikian, manfaat program dapat terus berlangsung dalam jangka panjang.